Rabu, 25 Februari 2015

JOURNEY 1: PUPUK






Bermula dari sebuah masalah.


Tahun 2009, ayah saya meminta saya untuk mengatasi salah satu persoalan yang ada di kandang penggemukan sapi milik perusahaan beliau di Sentul Bogor. Apakah persoalannya? Kotoran sapi yang baunya tak ramah di hidung :) 


Sebagai anak laki-laki. Menerima tantangan dari seorang ayahnya adalah hal yang biasa. Namun, saat itu tantangan yang diberikan merupakan tantangan pertama menyoal per-sapian :) Sungguh-amat tak lazim buat anak muda pada masa itu. Tapi, saya tertantang. 


Tantangan itu kemudian membuat saya berpikir.
Dalam kondisi tersebut, maka mata saya mulai terbuka ketika melihat ada sebuah peluang yang ditemukan di pinggir-pinggir jalan kota. Saat itu, banyak kios-kios penjual berbagai tanaman hias, seperti Aglonoma, Uphorbia, dan Gelombang Cinta. Maka hasil pengamatan ini pun memberikan pencerahan bagi saya untuk membuat pupuk tanaman hias dari kotoran sapi. 

Menangapi adanya peluang dari tanaman hias tersebut, maka segera saya pun mulai beraksi dengan melakukan tahap-tahap berikut:

  • Membuat fermentasi kotoran sapi yang didiamkan selama 1 bulan. Kotoran sapi dikeluarkan dari kandang, lalu kotoran tersebut dikumpulkan dan ditumpuk, kemudian didiamkan selama 1 bulan. 
  • Setelah 1 bulan difermentasikan, kotoran di-ayak seperti pasir. Setelah diayak, maka kotoran sapi sudah menjadi pupuk yang bisa digunakan.
  • Kemudian, proses packaging; pupuk dikemas dengan plastik dengan brand perusahaan ayah saya 
  • Tahap penjualan dilakukan dengan melakukan penawaran pupuk tersebut dan mendstribusikannya ke berbagai lokasi yang terdapat kios pedagang tanaman hias, antara lain di Kota Bogor, Sawangan, Depok, Ragunan, Bintaro
  • Dalam beberapa bulan, permintaan mulai meningkat. Maka, saya mulai meningkatkan produksi dengan menggunakan tenaga kerja untuk produksi pupuk dan sopir untuk jasa antar pupuk. 


*SESI MENYANYI*

Mungkin, jika bisa diungkapkan dengan sebuah lagu, perasaan saya saat sedang mengumpulkan kotoran sapi dan meng-ayak-nya dengan tangan saya sendiri kala itu, maka mulut saya pun akan bernyanyi seperti lagu berikut ini;



I'VE GOT YOU UNDER MY SKIN -Frank Sinatra-

I've got you under my skin.I've got you deep in the heart of me.So deep in my heart that you're really a part of me.I've got you under my skin.I'd tried so not to give in.I said to myself: this affair never will go so well.But why should I try to resist when, baby, I know so wellI've got you under my skin?



Betapa menyatunya saya dengan kotoran sapi masa itu.
Hari demi hari, kotoran sapi yang diangap masalah oleh perusahaan ayah saya mulai menyatu dengan kulit saya. Bau yang tak sedap pun tak menjadi alasan untuk menyerah. Ha ha ha!

------------------------------------------------------------------------------------------


Kegiatan usaha ini berjalan hingga tahun 2010, saat itu saya masih menjalani studi kuliah di Jatinangor, Sumedang. Usaha pupuk ini kemudian dilanjutkan oleh adik laki-laki saya.

Bagi saya, pengalaman usaha ini sangat berkesan. Ini adalah usaha pertama saya di bidang peternakan sapi. Ternyata, usaha ini adalah pintu gerbang yang membawa saya ada di dunia bisnis peternakan sapi, hingga hari ini. 

Pelajaran yang bisa saya ambil; jangan sepelekan sebuah masalah karena justru bisa menjadi peluang ;)



Ada masalah hari ini? :)







0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda